DETIKDATA, JAKARTA – Kredo “Percaya Desa, Desa Bisa” diharapkan bisa berjalan dan tersebar ke seluruh desa di Indonesia untuk meningkatkan kepercayaan diri masyarakat terhadap potensi desa.
Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, mengatakan kepercayaan ini merupakan salah satu faktor pendukung percepatan pembangunan desa.
“Jika kredo Percaya Desa karena Desa Bisa ini sudah menyebar dan berjalan sesuai dengan harapan, maka percepatan pembangunan desa untuk meningkatkan kesejahteraan warga desa akan cepat terwujud,” kata Mendes PDTT dalam keterangannya di laman resmi kemendesa.go.id pada Senin (10/1/2022).
Menurut Mendes PDTT, selama pandemi COVID-19 dalam dua tahun terakhir, Desa telah terbukti tangguh dan mampu menjadi penyangga ekonomi nasional.
Salah satu penunjang ketahanan ekonomi desa selama pandemi, katanya, adalah penggunaan Dana Desa, yang alokasinya terus ditingkatkan setiap tahun.
“Dana desa ini menjadi penopang utama APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa),” katanya.
Lebih lanjut Mendes PDTT menjelaskan, pada 2014 atau sebelum ada Dana Desa, rata-rata APBDes per desa itu Rp329 juta per desa.
Saat Dana Desa dikucurkan pada 2015, jumlah APBDes langsung melesat menjadi Rp701 juta per desa dan rata-rata melonjak hingga Rp1,6 miliar per desa pada 2021.
“Sepanjang pandemi, APBDes masih meningkat dari total Rp117 triliun pada 2019 menjadi Rp121 triliun pada 2021,” jelasnya.
Tingginya APBDes ini, dinilai berdampak pada beberapa sektor esensial yang menopang perekonomian nasional.
Dari sektor pendapatan per kapita warga desa, lanjutnya, terjadi peningkatan meskipun dalam situasi pandemi COVID-19.
“Pendapatan warga desa tetap meningkat dari Rp882.829 perkapita per bulan menjadi Rp971.445 perkapita per bulan yang ditopang peningkatan pendapatan warga desa ini salah satunya karena adanya Program Padat Karya Tunai Desa (PKTD) selama pandemi,” katanya.
PKTD menurutnya membuat pengangguran terbuka di desa menjadi terkendali, yang bisa terlihat dari angka pengangguran terbuka di desa tetap rendah, dan hanya naik dari 3,92 persen menjadi 4,71 persen selama pandemi.
Sedangkan Indeks Gini Ratio tercatat sebesar 0,320 pada 2019, naik menjadi 0,315 pada 2021.
Angka itu lebih rendah jika dibandingkan dengan dengan gini ratio di kota yang kian tinggi dari 0,393 menjadi 0,401. (DD/HK)






