DETIKDATA.COM, KUPANG – Pelaksanaan ujian akhir sekolah di SMA Katolik Giovanni Kupang tahun ajaran 2025/2026 menjadi momentum penguatan karakter siswa. Menggunakan sistem berbasis daring (online) yang ketat, sekolah ini menitikberatkan pada aspek kejujuran melalui pengawasan digital yang terintegrasi.
Kepala SMA Katolik Giovanni Kupang, RD. Drs. Stefanus Mau, Pr., menyampaikan bahwa sebanyak 340 siswa dari 10 rombongan belajar mengikuti ujian yang berlangsung sejak 13 hingga 20 April 2026.
“Ujian tahun ini menggunakan sistem online dari Yayasan Swastisari Keuskupan Agung Kupang. Sistem ini dirancang khusus untuk memastikan kejujuran peserta didik. Pihak sekolah bertanggung jawab dalam menyiapkan seluruh materi soal, baik untuk ujian utama maupun ujian susulan,” ujar RD. Stefanus saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Senin (20/4/2026).
Beliau menjelaskan, aplikasi ujian tersebut memiliki fitur pemantauan aktivitas peserta secara real-time. Sistem akan mendeteksi secara otomatis apabila siswa mencoba keluar dari halaman ujian atau mengakses aplikasi lain.
“Jika siswa terputus dari jaringan, sistem akan mencatatnya. Hal ini dilakukan untuk memverifikasi apakah gangguan tersebut murni kendala teknis sinyal atau adanya upaya mencari jawaban melalui mesin pencari seperti Google. Inilah yang membuat ujian ini benar-benar menguji integritas siswa,” tegasnya.
Selain pemantauan digital, standar operasional prosedur (SOP) di lokasi ujian tetap diperketat. Setiap ruangan hanya diisi oleh 20 siswa dengan pengawasan dari dua orang guru. Meskipun secara umum berjalan lancar, RD. Stefanus mengakui adanya kendala teknis berupa stabilitas jaringan internet yang memaksa beberapa siswa mencari posisi sinyal yang lebih baik di bawah pengawasan ketat.
Kedisiplinan waktu juga menjadi perhatian utama. Siswa yang terlambat lebih dari 30 menit dilarang mengikuti ujian utama dan wajib mengikuti ujian susulan dengan paket soal yang berbeda.
“Tercatat ada sekitar lima siswa yang harus mengikuti ujian susulan karena faktor keterlambatan,” tambahnya.
Melalui sistem ini, RD. Stefanus berharap lulusan SMA Katolik Giovanni tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki mentalitas jujur dan disiplin. Hal ini menjadi modal penting mengingat sekitar 90 persen lulusan sekolah tersebut setiap tahunnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri/swasta, sekolah kedinasan, hingga TNI/Polri.
Di sisi lain, para siswa menyambut positif sistem ini. Mario Assan, siswa kelas XII B, mengaku tertantang karena soal-soal yang diujikan mencakup materi komprehensif dari kelas X hingga XII. Sementara itu, Ellen Rigby dari kelas XII A menilai aplikasi ini sangat efektif dalam mencegah kecurangan.
“Aplikasi ini menutup akses ke sumber luar, sehingga kami benar-benar didorong untuk mengandalkan kemampuan diri sendiri. Ini pengalaman yang sangat baik untuk melatih kejujuran kami,” pungkas Ellen.






