DETIKDATA.COM, KEFAMENANU – Operasional dua unit Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), yakni SPPG Kefamenanu Tengah 1 dan SPPG Sasi 2, resmi dihentikan untuk sementara waktu. Langkah ini diambil di tengah desakan evaluasi dari aktivis mahasiswa terkait standar kelayakan infrastruktur dan pengelolaan limbah.
Hal ini disampaikan, Koordinator Wilayah (Korwil) Pengelola Dapur Makanan Bergizi Kabupaten TTU, Restha Merliny Ndaomanu, kepada media ini, Sabtu, 18/04/2026. Sekaligus mengonfirmasi bahwa penghentian tersebut bertujuan untuk perbaikan infrastruktur skala besar.
“Memang betul sedang berhenti operasional karena adanya perbaikan infrastruktur yang bersifat mayor. Jika sudah selesai, akan kembali beroperasi seperti biasa,” jelas Restha.
Restha menekankan bahwa pihaknya berkomitmen penuh pada aspek kesehatan, terutama pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan. Salah satu syarat mutlak sertifikat tersebut adalah ketersediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai.
“Dari 10 SPPG yang ada di TTU, 8 unit sudah mengantongi SLHS. Dua sisanya, termasuk yang sedang berhenti operasional, masih dalam proses pengurusan administrasi,” tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) melayangkan kritik tajam. Ketua Bidang Kemaritiman DPP GMNI, Apri Amfotis, mendesak penutupan sementara dapur yang dianggap tidak memenuhi standar BGN (Badan Gizi Nasional).
“Kita tidak boleh main-main dengan apa yang dikonsumsi anak-anak kita. Kesehatan generasi penerus di wilayah perbatasan adalah harga mati. Jika belum layak, lebih baik dihentikan sekarang,” tegas Apri, Jumat (17/4/2026).
Menanggapi sorotan tersebut, Ketua DPC Gerindra TTU, Kristoforus Haki, selaku salah satu pengelola unit dapur yang disorot, mengakui adanya teguran dari BGN. Ia menyatakan saat ini tengah melakukan langkah perbaikan konkret.
“Kami sedang memesan perangkat IPAL standar untuk menyaring limbah agar air yang dibuang jernih dan tidak berbau. Kami pastikan fasilitas segera memenuhi standar yang ditetapkan,” ujar Kristoforus, Kamis (16/4).
Sementara itu, pengelola lainnya, Fransiskus Sarmento, belum memberikan keterangan resmi terkait status operasional unit yang dikelolanya hingga berita ini diturunkan.






