DETIKDATA, KUPANG – Tiga pekan berlalu Badai Siklon Tropis Seroja menyisakan banyak cerita pilu. Salah satunya dari Apriel Bengngu salah seorang nelayan di Pasir Panjang, Kota Kupang yang perahunya karam diterpa badai Senin (05/04) dinihari.
Perahu kayu berukuran panjang 11 meter, lebar 2,20 meter dan tinggi 1 meter tersebut karam karena kebocoran akibat arus gelombang deras akibat badai.
“Sebelum badai terjadi pada (5/4), saya sudah berlindung di Pulau Kera dari jumat (2/4) saya sudah disana. Jumat siang itu, laut semakin bergelombang hingga membuat saya pusing. Kapal-kapal kami hampir terdampar,” kata Apriel mengisahkan awal kejadian tersebut.
Apriel Bengngu mengungkap alasan dirinya memilih untuk berada ditengah laut saat badai Siklon Tropis Seroja menjelang puncaknya.
“Kita putuskan untuk berlindung, namun pada sabtu (3/2) arus semakin kencang, dua jangkar kapal saya sudah putus. Perahu saya kemudian hanyut hingga tabrakan dengan perahu nelayan lainnya. Untung saja tak ada masalah berarti dari tabrakan tersebut. Saya masih bertahan dengan satu jangkar yang tersisa. Namun arus gelombang yang semakin kencang membuat saya khawatir dengan kondisi perahu. Sore hari saya memutuskan untuk ketengah laut untuk mengantisipasi kerusakan kapal akibat terpaan arus gelombang yang deras. Perahu saya bisa hancur jika terus bertahan di darat. Saya terus bertahan agak jauh dari pantai namun risikonya harus timba air terus dari dalam perahu yang kemasukan air,” tutur Apriel.
Apriel Bengngu menggambarkan detik – detik perahunya diterpa gelombang tinggi dan badai yang mengakibatkan dirinya hanyut terbawa arus gelombang.
“Saat puncak badai, Senin (5/04) dinihari, saya mendengar seperti ada yang meledak di anjungan kapal, tali pengikat semakin kencang, saya mencoba menarik jangkar namun putus, perahu hanyut semakin ke tengah, gelombang semakin besar. Saya terus timba air dari dalam perahu, terus timba, pokoknya tidak mampu lagi. Saya masih terus berusaha menyelamatkan perahu dari terpaan badai, berusaha hidupkan mesin. Namun perahu jebol. Saya berpikir tidak ada jalan lagi, saya kemudian duduk sejenak sambil menimba air keluar perahu yang semakin kemasukan air. Tak hilang akal, saya berusaha mengikat tali untuk sambung bagian perahu yang jebol. Namun arus gelombang yang kencang kembali menghantam sisi perahu yang jebol sehingga membuat perahu saya semakin kemasukan air. Saya kemudian keluar dari perahu untuk menyelamatkan diri,” jelas Apriel.
Apriel mengungkapkan perasaannya saat perahu alat mencari nafkah bagi diri dan keluarganya tersebut tenggelam diterpa badai.
“Sejenak saya berdiri di bagian tertentu dari perahu yang hampir tenggelam tersebut sambil melihat keadaan sekitar. Belum ada alat penyelamatan yang saya keluarkan dari perahu, saya belum berpikir sampai kesana, saya masih belum menerima perahu yang menemani saya mencari nafkah bagi keluarga saya tenggelam oleh terpaan badai tersebut,” ungkap Apriel.
Apriel menerangkan upayanya untuk menyelamatkan diri dari badai yang menenggelamkan perahunya.
“Ketika perahu semakin tenggelam saya kemudian tersadar untuk mengeluarkan alat penyelamatan dari dalam perahu yang sudah setengah tenggelam. Saya kemudian mengeluarkan coolbox dari dalam perahu yang hampir tenggelam sepenuhnya, untung saja belum terlambat. Ketika sudah menyelamatkan diri dengan berpegangan pada coolbox, saya menatap perahu yang semakin tenggelam dan menghilang dari hadapan saya, sambil menahan air mata saya bilang selamat jalan sudah kita berpisah,” terang Apriel
Setelah perahunya tenggelam, Apriel menuturkan upayanya untuk menyelamatkan diri pasca perahunya tengelam.
“Saya kemudian berenang menjauh dari lokasi tenggelamnya kapal untuk mengantisipasi material perahu yang mungkin terseret arus gelombang. Setelah melewati kejadian menegangkan itu, saya menenangkan diri, setelah itu hampir tidak ada beban karena saya sendiri, tidak ada pikiran atau kehawatiran karena tidak ada orang lain yang saya bawa. Setelah itu saya hanya berbaring diatas alat bantu dan hanyut mengikuti arus. Sesekali saya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keberadaan. Jika ada tekan keras saya kembali mengamati untuk memastikan keberadaan daratan. Saya terus hanyut, terus terapung hingga di sekitar arah dermaga, ada dua tiang lampu tinggi sekali. Saya juga sudah cium bau lumpur, air kan bau lumpur karena kotor jadi kayaknya sudah dekat darat. Saat itu sudah hampir pagi, ada cahaya-cahaya. Cahaya semakin terang yang menunjukan hari semakin pagi,” tutur Apriel.
Apriel menambahkan, semua fasilitas penangkapan ikan miliknya hilang bersama tenggelamnya kapal.
“Kita di Pasir Panjang ini fasilitasnya tersimpan di kapal semua. Jadi kalau hilang itu musnah semua tidak ada tersisa,” punkas Apriel. (DD/YW)






