WARTA  

Rayakan Hari Buruh, Kaprodi Ilmu Pemerintahan UNWIRA Ajak Mahasiswa Jadi Alat Pembebasan

Ket. Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Eusabius Separera Niron, S.IP., M.IP., Dok istimewa

DETIKDATA.COM, KUPANG – Universitas Widya Mandira (UNWIRA) Kupang memperingati Hari Buruh Internasional sekaligus merayakan Dies Natalis ke-41 Program Studi Ilmu Pemerintahan pada Jumat (1/5/2026).

Seperti disaksikan media ini, kegiatan berlangsung di halaman kampus, acara ini menjadi panggung kritik bagi civitas akademika dalam menyoroti realitas demokrasi dan perjuangan kelas pekerja.

Kegiatan yang dihadiri oleh mahasiswa dan dosen ini diwarnai dengan aksi pembacaan puisi serta orasi ilmiah. Melalui mimbar bebas tersebut, para mahasiswa menyampaikan gagasan tajam terkait kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada rakyat kecil.

Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Eusabius Separera Niron, S.IP., M.IP., dalam sambutannya menyampaikan refleksi mendalam mengenai peran akademisi di tengah kompleksitas persoalan sosial. Ia menegaskan bahwa usia 41 tahun harus menjadi titik kematangan bagi prodi untuk berkontribusi nyata memperkuat demokrasi lokal.

“Pertanyaannya, apakah kita benar-benar hadir dalam realitas itu, atau justru merasa nyaman tanpa memberi dampak signifikan?” ujar Eusabius di hadapan peserta kegiatan.

Ia secara khusus menyoroti kondisi demokrasi saat ini yang dinilainya belum sepenuhnya rasional. Menurutnya, dinamika politik sering kali digerakkan oleh kepentingan sempit alih-alih gagasan besar. Fenomena ini dikhawatirkan dapat melahirkan generasi yang kuat secara konseptual namun rapuh secara moral dan sosial.

Eusabius juga menegaskan bahwa institusi pendidikan tidak boleh bersikap netral terhadap ketidakadilan. Kampus harus diposisikan sebagai ruang pembebasan yang berpihak pada masyarakat.

“Kita tidak boleh hanya terpaku pada indikator administratif, tetapi harus mampu mengguncang ketidakadilan yang ada. Jika ilmu tidak membebaskan, maka ia kehilangan maknanya,” tegasnya.

Mengakhiri orasinya, Eusabius mengajak mahasiswa untuk tidak larut dalam rutinitas akademik semata, melainkan berani bersuara dan merawat perbedaan gagasan sebagai kekuatan perubahan. Momentum Dies Natalis ini diharapkan menjadi titik balik bagi mahasiswa Ilmu Pemerintahan untuk berani menggugat kemapanan yang tidak adil.

“Dirgahayu ke-41 bukan sekadar tentang bertahan, tetapi tentang keberanian melawan. Selamat Hari Buruh, semoga kita tidak hanya berpikir, tetapi juga berani mengubah,” pungkasnya.

Editor: DD/Bang Gusty