DETIKDATA.COM, KUPANG – Tudingan sikap arogan kini menghantam Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIKES Nusantara Kupang resmi melaporkan lembaga tersebut ke Ombudsman RI Perwakilan NTT pada Rabu (15/4/2026).
Langkah hukum ini dipicu oleh tindakan sepihak LLDIKTI XV yang mendepak Ketua STIKES Nusantara Kupang, Albert Tulle, dari grup WhatsApp pimpinan perguruan tinggi se-NTT. Tidak tanggung-tanggung, aksi “kick” tersebut dilakukan sebanyak tiga kali tanpa alasan yang jelas.
Ketua BEM STIKES Nusantara, Hendrik Rumihin, menilai tindakan tersebut bukan sekadar masalah teknis, melainkan penghinaan terhadap etika kelembagaan.
“Kami mendatangi Ombudsman karena LLDIKTI Wilayah XV diduga tidak profesional. Tindakan ini mengorbankan kepentingan banyak mahasiswa,” tegas Hendrik dalam rilis resminya.
Hendrik, yang didampingi Wakil Ketua BEM, Yermi Daud Taneo, mengaku sebelumnya telah mendatangi kantor LLDIKTI XV untuk meminta klarifikasi secara baik-baik. Namun, upaya tersebut membuahkan hasil nihil. Bungkamnya pihak LLDIKTI justru memicu kecemasan hebat di kalangan mahasiswa, terutama terkait proses administrasi wisuda.
Menurut Hendrik, saat ini syarat wisuda mahasiswa tersandera oleh Penomoran Ijazah Nasional (PIN) yang otoritasnya berada di bawah kendali LLDIKTI.
“Mahasiswa jadi cemas. Orang tua di kampung sudah berkorban demi menyekolahkan anak-anaknya. Jangan sampai masa depan mereka terganggu hanya karena ego lembaga,” tambahnya.
Ia mengecam gaya kepemimpinan LLDIKTI XV yang dinilai antikritik dan menutup ruang dialog. Hendrik mengingatkan bahwa LLDIKTI adalah institusi publik yang dibiayai negara untuk melayani, bukan memerintah layaknya penguasa.
“Ini bukan lembaga milik segelintir orang. Ini lembaga publik,” tandasnya.
Sebagai bentuk keseriusan, BEM STIKES Nusantara mulai menggalang kekuatan dengan berkoordinasi bersama BEM Universitas Nusa Cendana (Undana) hingga jaringan BEM Nusantara. Mereka melayangkan ultimatum: jika tidak ada penjelasan terbuka dalam waktu dekat, gelombang aksi massa kolektif akan segera pecah.
“Kalau tidak ada penjelasan, kami akan konsolidasi lebih besar. Ini bukan hanya soal satu kampus, tapi menyangkut masa depan pendidikan di NTT,” ancam Hendrik.
Selain masalah grup WhatsApp, pihak BEM juga mengklaim telah mengantongi sejumlah kejanggalan lain di internal LLDIKTI XV yang siap dilaporkan ke lembaga pengawas lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak LLDIKTI Wilayah XV belum memberikan keterangan resmi terkait laporan tersebut. Redaksi akan memberikan ruang hak jawab sepenuhnya kepada pihak LLDIKTI pada pemberitaan selanjutnya.





