BPPT Lakukan Audit Teknologi Pengolah Komponen Baterai Mobil Listrik

DETIKDATA, JAKARTA – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan audit teknologi terhadap pilot plant Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metals and Minerals (PT TMM). Hal itu, dalam rangka melaksanakan tujuh peran sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU SISNAS IPTEK).

Audit teknologi menurut UU SISNAS IPTEK adalah proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif terhadap aset teknologi. Tujuannya menetapkan tingkat kesesuaian teknologi dengan kriteria dan/atau standar yang telah ditetapkan serta penyampaian hasil kepada pengguna yang bersangkutan.

Kepala BPPT Hammam Riza usai melakukan kunjungan ke pilot plant PT TMM, di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/5/2021) mengatakan, penyampaian hasil audit teknologi yang dilakukan BPPT ini, bertujuan untuk mengetahui posisi teknologi STAL diantara teknologi lain dalam pengolahan bijih laterit nikel, serta memberikan masukan terkait dengan penggunaan teknologi tersebut.

“Audit teknologi BPPT ini, dilakukan untuk mendorong program penggunaan produk dalam negeri (P3DN) terlebih dalam pemanfaatan, dan pemberian nilai tambah mineral pada bijih laterit nikel,” terang Hammam.

Hammam menilai, nikel merupakan salah satu jenis logam dasar yang digadang-gadang jadi komoditas masa depan. Nikel merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan, terutama untuk komponen baterai mobil listrik, dimana Indonesia juga sedang melakukan percepatan ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan salah satu produsen nikel (Nickel Pig Iron (NPI), Bijih, Konsentrat, Presipitat) terbesar di dunia dengan menyumbang 27% total produksi global, menurut data dari McKinsey. Indonesia sendiri mengekspor 98% nikelnya ke China dan sisanya ke Uni Eropa.

Kepala BPPT mengapresiasi penerapan teknologi yang dilakukan oleh PT TMM. Menurutnya, pilot plant pengolahan nikel skala kecil ini, dapat digunakan untuk mengolah bijih laterit nikel menjadi MHP (Mixed Hidroxide Precipitated) yang merupakan komponen baterai listrik.

Disebutkan, secara umum dari hasil audit BPPT, teknologi STAL mampu me-recovery nikel cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diterapkan skala besar di Indonesia, terlebih dalam rangka meningkatkan nilai tambah komponen dalam negeri dan mendukung percepatan program pengembangan KBLBB di Indonesia.

Kepala BPPT juga mengapresiasi atas kerjasama yang telah dilakukan oleh BPPT dan PT TMM, untuk mewujudkan inovasi baru karya Indonesia.

“Kerjasama seperti ini, sangat sesuai dengan tujuh peran BPPT, yakni perekayasaan, kliring teknologi, audit teknologi, alih teknologi, intermediasi teknologi, difusi ilmu pengetahuan dan teknologi serta komersialisasi teknologi,” paparnya.

Hammam berharap, kerjasama ini tidak hanya berhenti hanya pada tahap audit teknologi saja, namun dapat berlanjut hingga arah komersialisasinya.

Direktur Utama PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (TMM), Petrus Tjandra dalam kesempatan tersebut menyampaikan harapannya, agar sinergisitas yang sudah dibangun dengan BPPT tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi dapat terus berlangsung, terutama dalam pengembangan turunan dari produk-produk STAL, agar dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kedaulatan Republik Indonesia dengan basis riset dan inovasi.

“Kami merasa bersyukur dan mengucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BPPT, beserta segenap jajaran Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral (PTPSM) dan Pusat Layanan Teknologi (Pusyantek), yang telah terlibat dalam mendukung terselenggaranya audit terhadap teknologi STAL ini,” jelasnya.

Petrus juga menegaskan, bahwa Indonesia membutuhkan kehadiran inovasi teknologi pengolahan, seperti teknologi STAL. “Indonesia memiliki kekayaan alam yang besar, namun hingga kini belum dapat merasakan manfaat dari kekayaan alam tersebut secara maksimal, karena anak bangsa belum memiliki inovasi teknologi yang mampu mengolah kekayaan alam tersebut,” ujarnya.  

Menurut Petrus, Indoneia membutuhkan kehadiran inovasi-inovasi teknologi pengolahan yang mumpuni seperti teknologi STAL, sebuah teknologi karya anak bangsa yang mampu memanfaatkan kekayaan alam di bumi Indonesia, dengan mengolahnya untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah (added value).

Adapun, teknologi STAL (Step Temperature Acid Leach) merupakan teknologi pengolahan nikel (Ni) dan kobalt (Co) secara hidrometalurgi, yang dikembangkan oleh TMM, serta dimiliki oleh PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) selaku entitas anak perusahaan TMM.

Petrus menambahkan, dengan adanya audit teknologi yang dilakukan BPPT ini, dirinya merasa bangga dan mengucapkan terima kasih sekali kepada BPPT. “Setiap industri/setiap teknologi harusnya bersedia diaudit,” ungkapnya. (DD/GS)