DETIKDATA, ENDE – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)Universitas Flores melakukan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan Google Maps di Balai Desa Anakoli, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo, NTT. Rabu (27/08/25).
Kegiatan ini ditujukan untuk Pelaku UMKM, pengelola destinasi wisata, pemuda, dan perangkat Desa Anakoli antusias mengikuti
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas wisata dan produk lokal di era digital.
Cristhian Roga Leli yang menginisiasi kegiatan ini menyampaikan tentang pentingnya kehadiran pelaku usaha dan wisata di platform digital seperti Google Maps.
“Di era digital, siapa yang tak terlihat, dianggap tidak ada. Dengan hadir di Google Maps, pelaku UMKM dan pengelola wisata Desa Anakoli membuka peluang besar untuk ditemukan, dikunjungi, dan berkembang,” ujar Tian yang juga sebagai pemateri utama.
Sepanjang pelatihan, peserta dibekali keterampilan teknis mulai dari menandai lokasi di Google Maps, menyusun profil usaha dan destinasi, hingga mengelola ulasan dan citra digital agar semakin menarik bagi pengunjung dan konsumen. Mahasiswa KKN UniFlor juga turut mendampingi peserta secara langsung dalam praktik digitalisasi ini.
Tian menjelaskan mengapa Google Maps menjadi alat strategis, lebih dari 70% wisatawan dan pelanggan kini mengandalkan Google Maps untuk mencari lokasi kuliner, penginapan, tempat wisata, maupun toko lokal saat bepergian.
“Google Maps bukan hanya soal menunjukkan arah, tetapi soal menciptakan akses. Akses informasi inilah yang membuka pintu pengunjung baru dan memperluas pasar bagi UMKM,” tambahnya.
Sementara, kepala Desa Anakoli, Yoseph Laka Rani, mengapresiasi inisiatif mahasiswa dan berharap pelatihan ini menjadi langkah awal transformasi digital desa.
Ia menargetkan Anakoli dapat menjadi desa wisata berbasis digital yang mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.
“Kami sangat berterima kasih atas inisiatif ini. Dengan adanya pelatihan ini, kami berharap Desa Anakoli dapat meningkatkan visibilitas wisata dan produk lokal, serta menjadi destinasi wisata yang lebih populer dan dikenal luas,” Ungkapnya.

“Desa Anakoli ini juga memiliki tambang garam yang bisa dijadikan poros peningkatan pendapatan perkapita masyarakat. Persoalannya adalah tambang garam ini belum di promosikan keluar desa karena belum adanya penanda digital untuk memberikan informasi mengenai potensi ekonomi ini. Dengan adanya pelatihan ini tentunya membuka akses luas bagi desa ini,” lanjutnya.
Iya menambahkan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda pelengkap program desa, tetapi menjadi bagian dari visi jangka panjang untuk pemberdayaan masyarakat melalui teknologi, kearifan lokal, dan pengembangan ekonomi.
“Dengan pelatihan ini, masyarakat Desa Anakoli telah mengambil langkah maju: memetakan potensi mereka dan membuka akses ke pasar yang lebih luas. Di era digital, keterlihatan di internet bisa menjadi penentu eksistensi. Google Maps menjadi titik awal, dari mana desa kecil seperti Anakoli dapat berbicara di panggung besar,” tutupnya. (DD/YW)






