KUPANG MEMBARA! Mahasiswa Segel Bundaran PU, Kutuk Polres Sikka Sebagai ‘Anjing Penjaga’ Pemodal!

Detikdata.com, Kupnag – “Bau busuk” kriminalisasi aktivis memicu ledakan amarah di jantung Ibu Kota NTT. Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang secara heroik mengepung Bundaran PU pada Jumat (30/1/2026). Mereka mengutuk keras Polres Sikka yang dianggap telah bertransformasi menjadi “tangan besi” para pemilik modal setelah menetapkan aktivis agraria, Jhon Bala, sebagai tersangka.

Dalam aksi massa yang penuh tensi tinggi, para aktivis menuding kepolisian sengaja menutup mata terhadap borok konflik agraria antara masyarakat adat Nangahale dan PT Krisrama. Bukannya menjadi pelindung rakyat, aparat justru dituding lebih memilih menjadi tukang bungkam suara kritis melalui jeratan hukum yang dipaksakan dan prematur.

Ketua FMN Cabang Kupang, Givaldus Saputra Musu Loy, dalam orasi yang membakar semangat massa, menegaskan bahwa status tersangka Jhon Bala adalah noda hitam dalam penegakan hukum di NTT.

“Ini bukan penegakan hukum, ini kriminalisasi brutal! Polres Sikka seolah-olah menghamba pada kepentingan korporasi untuk menindas perjuangan rakyat. Kami mengecam keras penetapan tersangka kawan kami yang berjuang demi ruang hidup masyarakat adat!” teriak Givaldus di tengah massa aksi.

Givaldus menilai, pendekatan hukum yang diambil aparat sangat diskriminatif dan berpihak. Negara dianggap hanya hadir sebagai “satpam” kepentingan PT Krisrama, sementara tangisan dan darah masyarakat adat yang mempertahankan tanah warisannya dianggap angin lalu.

Tak hanya menghujam kepolisian, FMN juga melontarkan tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Sikka. Pemkab dituding sebagai institusi “pengecut” yang hanya bisa cuci tangan atas konflik menahun di Nangahale.

“Pemerintah daerah jangan hanya pintar bersembunyi! Membiarkan konflik agraria berlarut dan membiarkan aktivis dikriminalisasi adalah bentuk kegagalan konstitusi yang paling nyata dan memuakkan,” tegas Givaldus dengan nada berapi-api.

Massa menuntut dengan tegas agar Polres Sikka segera menghentikan “teater pembungkaman” ini dan mencabut status tersangka Jhon Bala tanpa syarat. FMN mengancam akan melakukan eskalasi massa yang jauh lebih masif dan melakukan konsolidasi total di seluruh wilayah NTT jika tuntutan mereka tidak segera digubris.

Meski aksi berakhir dengan pengawalan ketat aparat, bara perlawanan mahasiswa dipastikan tetap menyala. Mereka bersumpah tidak akan mundur sejengkal pun selama hak-hak masyarakat adat terus dirampas oleh persekongkolan jahat antara penguasa dan pengusaha.