DETIKDATA, LEWOLEBA – Muatan balik Tol Laut dari Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 8 Maret 2021 mencapai 19 kontainer. Muatan balik tersebut terdiri dari muatan kering (dry full) dan reefer full.
Kepala kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) kelas III Lewoleba, Johanes Ola mengungkapkan, selama ini muatan balik Tol Laut dari daerahnya tidak pernah sepi. Hal ini tidak lepas dari peran masyarakat setempat yang antusias semenjak adanya rute Tol Laut di daerah tersebut.
Menurut dia, kesadaran masyarakat sangat penting untuk memaksimalkan muatan balik tersebut. Sebab keberadaan Tol Laut tidak hanya untuk menerima kiriman logistik tetapi juga untuk mengirimkan produk-produk lokal yang menjadi unggulan.
“Muatan balik tidak pernah kosong. Minimal 10 kontainer dry full (muatan kering) terdiri dari hasil bumi dan reefer. Tanggal 8 Maret itu bongkar 44 kontainer dry full dan 4 reefer empty. Muatan baliknya 15 kontainer dry full hasil bumi dan 4 reefer full tujuan Tanjung Perak – Surabaya,” ungkapnya, Rabu (10/3/2021).
Dia memaparkan dengan adanya Tol Laut, masyarakat sangat terbantu dalam memenuhi kebutuhan pokoknya berupa makanan, material bahan bangunan dengan harga yang terjangkau.
Selain itu, mereka juga dapat memasarkan produk lokal menuju pasar yang lebih menguntungkan dalam hal ini ke Pulau Jawa. Sehingga terjadi perbaikan dari sisi ekonomi karena pendapatan masyarakat menjadi meningkat.
Selama ini sudah banyak masyarakat yang berpartisipasi dalam pengisian muatan balik Tol Laut dengan mengirimkan hasil bumi, perikanan, hingga besi tua. Hasil masyarakat tersebut di jual ke pulau Jawa melalui Surabaya.
“Kehadiran Tol Laut kargo di Pelabuhan Lewoleba sangat bermafaat bagi masyarakt disini karena sangat murah,” paparnya.
Pelabuhan Lewoleba di Kabupaten Lembata, NTT merupakan salah satu pelabuhan singgah Tol Laut yang disandari oleh KM Caraka Jaya Niaga III – 22 yang mendapat penugasan dari Pemerintah, dalam hal ini Direkrorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubla Kemenhub) untuk rute dari Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Larantuka – Lewoleba (PP). Kapasitas kapal mencapai 171 boks, 181 boks dan 105 boks peti kemas (kontainer) berukuran 20 feet.
Sebagai informasi, peningkatan muatan balik Tol Laut tersebut tidak lepas dari upaya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) cq Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) melalui kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) kelas III Lewoleba yang saling bekerjasama serta terus mendorong Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat untuk meningkatkan muatan baliknya. Karena selain menurunkan disparitas harga, Tol Laut juga dapat menjadi sarana meningkatkan pendapatan masyarakat. (DD/DT)






