Tinjau PLTSa Merah Putih, Menristek: Sekarang Sampah Bisa Jadi Energi

DETIKDATA, JAKARTA – Dalam kunjungan kerja di Bekasi, Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang PS Brodjonegoro meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih di Bantar Gebang yang merupakan pilot project hasil kerjasama Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak MoU pada tahun 2017.

Menristek Bambang mengatakan, hadirnya PLTSa Merah Putih diharapkan dapat memecah permasalahan pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, yang merupakan tempat pembuangan akhir untuk DKI Jakarta dan Kota Bekasi.

“Kami sangat mengapresiasi upaya Pemprov DKI Jakarta yang telah melakukan kerja sama dengan BPPT dalam menanggulangi tumpukan sampah yang ada di Bantar Gebang ini. Hal ini sesuai dengan konsep kita dalam mengatasi dan mitigasi perubahan iklim. Dimana pengolahan sampah menjadi energi listrik bisa dikategorikan sebagai ekonomi sirkular, yaitu proses produksi yang tidak pernah berhenti dan berupaya menghasilkan zero waste. Dimana dulu sampah hanya menjadi sampah saja atau waste to waste, maka sekarang juga dapat menjadi energi atau waste to energy,” jelas Bambang, seperti dikutip dalam rilis Kemenristek/BRIN di Jakarta, Kamis (4/3/2021).

Bambang menyebutkan, hal itu merupakan contoh baik dari sinergi ​triple helix antara pemerintah, akademisi, dan industri dalam menghasilkan inovasi untuk menjawab masalah bangsa. Ke depan Kemenristek/BRIN dan BPPT berusaha untuk dapat membuat lebih banyak PLTSa di berbagai daerah di Indonesia untuk mengurangi masalah sampah yang ada.

Bambang berharap, semua pihak dapat bekerja sama untuk menanggulangi permasalahan sampah ini.

Cara kerja PLTSa adalah dengan membawa panas pada gas buang hasil pembakaran sampah yang kemudian digunakan untuk mengonversi air dalam boiler menjadi steam. Steam yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin yang selanjutnya akan menghasilkan energi listrik.

Sebagian besar peralatan yang digunakan merupakan produksi dalam negeri. Dimana terdiri dari 4 (empat) peralatan utama yaitu bunker yang terbuat dari concrete dilengkapi dengan platform dan crane; ruang bakar yang dilengkapi boiler system reciprocating grate yang didesain dapat membakar sampah dengan suhu di atas 9500 °C, sehingga meminimalisir munculnya gas buang yang mencemari lingkungan; sistem pengendali polusi, dan unit steam turbin pembangkit listrik.

Dengan kapasitas 100 ton sampah per hari PLTSa Bantar Gebang dapat menghasilkan energi listrik sebesar 731,1 kWh. Sejak Februari hingga Oktober 2020, PLTSa Bantar Gebang telah membakar sebanyak 8.190 ton sampah, dan telah menghasilkan energi listrik sebanyak 583,95 MWh atau sekitar 110 kWh per ton sampah.

Dalam kunjungan kerja ke Bekasi, Rabu (3/3), turut hadir mendampingi Menritek/Kepala BRIN yaitu Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Berkelanjutan/Plt. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek/BRIN Ismunandar, Staf Ahli Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kemenristek/BRIN Erry Ricardo Nurzal, Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Kemenristek/BRIN Danang Rizki Ginanjar, Staf Khusus Menteri Bidang Pendanaan dan Investasi Kemenristek/BRIN Ekoputro Adijayanto, jajaran pimpinan PT Bio Konversi Indonesia, Kennedy Simandjuntak selaku pemegang paten proses biokonversi, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPT Yudi Anantasena, dan Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Syaripudin. (DD/GS)