Kisah Sepasang Kera ( Oleh : Genhy Halek)

Part 1
Dua ekor kera sedang bersenggama, tidak berdasarkan pemikiran apa-apa. 2 homo hobilis itu tidak pernah menyangka bahwa mereka akan melahirkan anak yang akan menjajah bumi mereka.Kera hamil selama 37 minggu, dengan perasaan cemas kera betina mempertahankan dirinya dari sakit dan keguguran.Apapun hewannya, dalam keadaan normal (tidak stress), mereka akan mempertahankan kandungannya.Bolehlah kera yang sedang bunting ini kita namakan Judi dan kera yang mengawininya kita panggil Ed.20 minggu berlalu, cuaca buruk berhari-hari menyebabkan Ed, Judi dan keluarganya bermigrasi mencari tempat yang aman untuk ditinggali,Era ini disebut dengan era berburu dan meramu, leluhur manusia yang masih dalam fisik hewan, hidup hanya untuk mencari keselamatan dengan mengisi perut dan menghindari bahaya alam.
Bahaya alam yang paling mencekam adalah kebakaran hutan.Keluarga Ed dan Judi menghadapi bencana mematikan di dalam Hutan Afrika.Saat itu, petir tiba-tiba menyambar dan membakar semuanya.Keluarga Ed dan Judi yang tidak lebih dari 100 ekor kera itu terjebak dalam kobaran api yang mengarah dari segala sisi.Para hobilis menunjukkan perilaku yang tidak terduga dari hewan-hewan lainnya, “mereka para kera mulai mengorbankan diri mereka satu-persatu demi keselamatan kelompoknya”Aturan dari tolong menolong ala’ kera ini sangat sederhana:
“Kera yang fisiknya masih kuat untuk bertahan, akan mengorbankan diri untuk menolong kera yang terluka dan terancam bahaya”.dari suatu perbuatan kecil hewan yang berbeda dari perbuatan hewan yang lainnya, memicu evolusi.Ketika ada banyak kera terjebak dalam kobaran api, beberapa kera muda yang kuat masuk ke dalam lingkaran api, menolong lebih banyak kera yang terjebak.Tapi sayangnya para kera muda meninggal dunia.Sepertinya kita akan bertanya-tanya,Mengapa kera leluhur manusia melakukan semua ini?Jawabannya adalah ketakutan.Takut untuk punah.Judi, Ed dan sisa 30 kera lainnya stress melihat keluarga kera mati hangus terbakar dalam kebakaran hutan yang besar.Tapi mereka harus tetap melanjutkan hidup dengan bermigrasi.

Part 2
Kelompok ini mencari habitat baru, kelompok Hobilis bertujuan mencari tempat yang subur sampai akhirnya mereka kelelahan dan tinggal sementara di kawasan gersang.Daya tahan tubuh diuji disini, kera dengan fisik yang lebih kuat, mampu bertahan hidup, sementara kera yang lemah akan mati disebabkan dehidrasi.Disini ketakutan kera Hobilis mulai terbentuk, kera takut dengan dehidrasi, cuaca ekstrim serta semua penyebab kepunahan.Situasi ekstrim mendorong evolusi perilaku makhluk hidup, memaksa makhluk hidup mengganti kebiasaan makan dan minumnya.Biasanya, Hobilis akan minum dari sungai atau mata air, akan tetapi di habitat gersang, Hobilis minum air yang berasal dari pohon kaktus.
Pada awalnya, Hobilis memegang berbagai jenis tumbuhan yang dapat mereka temui di Padang gersang, mereka menyentuh banyak tanaman dan langsung memakannya berharap rasa dahaga mereka bisa berkurang, akan tetapi kegiatan ini membuat mereka terluka.Dalam rasa dahaga yang amat besar ditambah ketakutan punah, pada akhirnya seekor kera dengan kekuatan besarnya, mengambil batu besar dan menghancurkan kaktus, penemuan “batu bisa membantu mendapatkan air” inilah asal-usul dari perkakas.

Part 3
Masa-masa sulit dari keluarga Ed dan Judi sudah terlewati, mereka berhasil bermigrasi ke daerah hutan hujan di Afrika Tengah walaupun hanya tersisa 10 anggota keluarga.Masa yang panjang semenjak kehamilan Judi memberikan gambaran bahwa hidup ini penuh perjuangan, perjuangan mengatasi banyak hal sulit termasuk menghindari bencana alam.Inilah saatnya Judi melahirkan, sebuah usaha menjadi hewan mamalia.Kera Hobilis lahir dengan kondisi menangis, menandakan bahwa bayi kera tersebut ingin berkomunikasi kepada sang ibu agar mau menerima dan melindunginya.Tidak ada kera yang bisa berpikir bahwa anak dari salah satu spesies mereka akan membawa perubahan di muka bumi, kera pada awalnya hidup liar di hutan seperti seluruh hewan-hewan lain, sampai anak cucunya kelak mengubah segalanya.
Kelahiran anak Judi membawa pertanda buruk bagi peradaban kerajaan hewan kelak, mari kita panggil anak Judi dengan nama Alpha.Alpha lahir dengan fisik yang lemah, dia tidak begitu kuat untuk memanjat pohon, teman dari Alpha seekor kera tua yang pernah menjadi penyelamat karena memecahkan kaktus dengan batu, menunjukkan bagaimana batu bisa membantu kera mendapatkan makanan.Dilemparkannya batu-batu ke pohon oleh Alpha untuk menjatuhkan buahnya, hal ini menunjukkan dua hal: ada kera yang mampu meniru suatu perbuatan dan ada peralihan dari kerja menggunakan tangan ke kerja menggunakan alat.Alpha hanya mampu mencari makanan dengan menimpuk-nimpuk batu, memberikannya waktu luang lebih banyak daripada teman-temannya yang sibuk memanjat pohon.

Part 4
Waktu luang ini dimanfaatkan oleh Alpha untuk mengeksplorasi berbagai jenis makanan selainbuah-buah yang ada di atas pohon, sebagaimana insting kucing yang memakan rumput untuk melancarkan proses pencernaannya, kera juga memiliki insting yang demikian.Metode pengolahan makanan herbal sudah lama dimiliki oleh keluarga kera, bahkan kegiatan “meramu” makanan merupakan kemampuan dasar dari setiap kera sampai sekarang, akan tetapi Alpha memiliki kebiasaan yang aneh, Alpha suka mencoba makanan baru yang dia temukan di hutan.
Kebiasaan ini akibat dari kondisi ibu Alpha, yakni Judi yang suka sakit-sakitan, dalam biodiversitas yang tinggi, kemampuan hewan bertahan hidup sangat tinggi.Biodiversitas yang tinggi memungkinkan hewan menemukan segala hal yang dia butuhkan untuk bertahan hidup, terutama makanan bergizi dan obat-obatan, hewan tau apa yang baik untuk dirinya, tapi hewan tidak tau mengenai efek samping yang akan terjadi.”Alpha ingin memberikan makanan yang bisa menyembuhkan Judi”.Jika kita bertanya tumbuhan apa yang paling banyak di bumi? Maka jawabannya adalah jamur! Hobilis mengumpulkan jamur, mengambil bagian yang bisa ia makan, lalu menyimpannya ketika sudah kenyang.
Hobilis hidup memiliki ketergantungan terhadap hutan, tetapi kelompok ini juga berjaga-jaga apabila hutan tidak mampu menyediakan makanan yang cukup, mereka menyimpan sayur, daun, jamur dan buah yang layak untuk dikonsumsi.Penyimpanan makanan ini mensyaratkan kelompok kera membentuk masyarakat, yakni sistem pembagian kerja dalam kelompok.

Part 5
Suatu hari, dalam perjalanan eksplorasi Alpha mencoba berbagai makanan baru, Alpha melihat bahwa kotoran hewan herbivora ditumbuhi dengan jamur, jamur yang biasa ia makan berbeda dengan jamur yang tumbuh di atas kotoran itu.Eksplorasi merupakan kegiatan baru dalam dunia kera, eksplorasi mensyaratkan sebuah emosi baru yakni “rasa penasaran”.Karena rasa penasaran, Alpha mencoba makanan baru yaitu jamur di atas kotoran sapi, dia makan jamur itu dengan ukuran utuh.
GUBRAKK!Alpha langsung tersungkur ke tanah tempat ditemukan kotoran tersebut.Malam hari itu sedang turun hujan, Alpha masih berada di hutan disebabkan dia pingsan setelah mengkonsumsi jamur.Kelompok Hobilis membicarakan keresahan mereka karena Alpha tidak kunjung kembali ke sarang.Dengan menciptakan bunyi-bunyian yang khusus, mereka berkomunikasi.Suara khas kera mulai muncul dengan begitu berisik, kera berisik disebabkan perasaan khawatir dan stress, kera Hobilis memiliki emosional yang kuat walaupun mereka tidak bisa mengekspresikannya.Kera yang hidup di hutan lebat sangat bergantung kepada bunyi, mereka berkomunikasi dengan mengeluarkan beberapa jenis bunyi tergantung pemahaman kelompoknya.
Bagaimana cara kera-kera Hobilis menciptakan pemahaman kelompok inilah asal-usul dari kecerdasan kolektif.Walaupun lemah, Alpha adalah seekor kera yang memiliki suara paling nyaring, disebabkan kelemahan fisik individu bisa diatasi dengan perlindungan kawanan kelompoknya, Alpha meneriakkan bahaya apapun di hutan dengan suara paling keras, supaya teman-temannya bisa mudah menemukannya dan membantu kesulitannya, tetapi sampai sekarang Alpha tidak bersuara sama sekali.
Teman-teman Alpha berpencar ke seluruh penjuru hutan, mencari Alpha dalam kondisi waspada, melihat setiap sisi hutan, mengeluarkan bunyi khusus untuk menandai lokasi, mungkin kegiatan kera mencari teman yang hilang merupakan asal usul manusia melakukan pemetaan wilayah.”Alpha ketemu”, keluar bunyian suara yang sangat keras dari salah satu kera menandai lokasi ditemukannya Alpha.Alpha digendong perlahan-lahan sampai menuju ke sarang, sebuah tempat yang dipenuhi oleh daun-daunan sebagai selimut dan tempat tinggal seluruh anggota kera Hobilis.
Selama 3 hari Alpha pingsan, orang tua Alpha, Ed dan Judi senantiasa menjaganya secarabergantian, walaupun masih berbentuk fisik hewan, manusia Hobilis ini mampu berpikir dan merasakan emosional cukup dalam, hal ini disebabkan tingkat biodiversitas yang tinggi di hutan tersebut, sehingga kolektif Hobilis merasa saling memiliki anggotanya masing-masing.Tibalah saatnya Alpha bangun, Ed dan Judi melihat Alpha dengan ekspresi raut wajah harap-harap cemas, tiba-tiba Alpha mengucapkan sebuah kata yang aneh, yaitu:
“Duh”Tanpa mempedulikan apa-apa Ed dan Judi langsung memeluk Alpha dengan erat.Sewaktu pingsan ternyata Alpha melihat sesuatu, mungkin inilah yang disebut sebagai mimpi dalam dunia manusia.

Part 6
Alpha bermimpi melihat sebuah lorong panjang, dengan cahaya terang di ujung lorong tersebut. Dia berlari menuju cahaya tersebut namun tidak pernah sampai, Alpha terus menerus berlari namun cahaya yang dia lihat nampak sama saja tidak ada yang berubah, mimpi yang dirasakan oleh Alpha merupakan kejadian yang luar biasa, bisa melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.Pada akhirnya Alpha yang seorang periang menjadi anak yang pendiam.Alpha merupakan awal dari lahirnya para filsuf yakni orang yang merenung untuk berpikir lebih mendalam.Alpha masih membayangkan mimpi yang dia rasakan pertama kali, rasanya begitu aneh dan berbeda.Inilah yang disebut sebagai “pengalaman Hyper Realitas”.
Bermimpi adalah kunci menuju dunia Hyper Realitas, dimana dunia tersebut hanya terjadi dalam alam bawah sadar kita, membuat kita berpikir kejadian yang terpisah dengan realita yang kita alami.Jamur yang tumbuh diatas kotoran sapi merupakan wadah menuju dunia Hyper Realitas itu, dimana kera yang tidak bermimpi tetapi dipaksa untuk bermimpi!Hyper Realitas yang dialami oleh Alpha merupakan suasana yang gelap, dimana Alpha berada dalam lorong dan berlari dipandu oleh sebuah cahaya terang. Semua kejadian memiliki makna, walaupun hanya sebuah mimpi, tergantung bagaimana kita menerjemahkannya.Alpha sering terdiam, nampaknya dia penasaran dan ingin masuk lagi dalam dunia Hyper Realitas.Diam-diam Alpha memanen jamur yang tumbuh dari kotoran sapi itu.Dia mengumpulkan semua jamur yang bisa dia temukan di hutan, jumlahnya sangat banyak, cukup untuk dibagikan ke seluruh anggota Hobilis.Alpha lalu memasukkan menu jamur ke dalam makan pagi para kawanan kera.”Semua kera menjadi mabuk karena itu”.

Part 7
Mabuk yang dialami Hobilis bervariasi, ada kera yang berteriak, ada yang meraung-raung, serta ada yang tertidur lemas dengan wajah yang bahagia dan lain-lainnya.Semua kera berhalusinasi, halusinasi yang jatuh dari keadaan sadar merupakan dorongan mimpi dalam kondisi tidak sadar (tidur).Ada kera yang berhalusinasi melihat makhluk asing mirip kera dengan tubuh tegak dan ukuran sangat besar.Jumlah makhluk tersebut sangat banyak, berjalan dengan cepat dan saling acuh tak acuh terhadap sesama mereka.Ada kera yang berhalusinasi membuka gerbang pintu yang megah, lalu masuk dalam sebuah taman tanpa batas dimana banyak hal-hal luar biasa (yang tidak pernah terlintas di pikiran kera tersebut) terjadi!Hal-hal luar biasa dalam taman tersebut antara lain: pohon bisa berjalan, terdapat sungai yang airnya terasa manis dan lezat, rumput memiliki rasa seperti daging dan kera itu ternyata bisa terbang kesana kemari.Halusinasi bersama-sama membuat para kera memiliki pandangan yang berbeda-beda pada dunia yang mereka lihat sekarang.Para kera mengalami halusinasi selama 1 hari penuh, mereka langsung tertidur pulas dan melanjutkan halusinasi mereka dalam mimpi yang pertama kali mereka alami.Akhirnya kera-kera itu terbangun, selepas mereka terbangun, mereka langsung ramai berbicara dalam bahasa kera.
Bahasa kera adalah komunikasi primitif, sebenarnya kita tidak boleh menyebut komunikasi primitif ini sebagai “bahasa kera”, karena sesuatu yang dinamakan bahasa harus memiliki makna dalam sebuah kata, sementara bunyi yang dikeluarkan oleh kera hanya untuk “menandai” sesuatu.Mari kita sebut komunikasi primitif ini sebagai “bunyi penanda”.Hewan mengeluarkan bunyi untuk menandai segala sesuatu yang “penting bagi kolektifnya”.
Dasar konsep terbentuknya Komunikasi primitif ini adalah pemahaman dan ikut-ikutan, pada awalnya ada beberapa hewan yang mulai mengeluarkan suatu bunyi khusus untuk menandai apa yang dia lihat atau rasakan, lalu ketika sudah banyak anggota kelompoknya memahami tanda bunyi tersebut, maka akan dibiasakan lalu menjadi Komunikasi primitif.
Kera-kera Hobilis memiliki bunyi penanda terbanyak dibandingkan hewan lainnya, mereka bahkan mampu menandai beberapa kondisi yang sedang dia rasakan.Hanya 10 menit kelompok Hobilis ini membicarakan kondisi saat mereka bermimpi dengan teman-temannya.Lalu setelah itu mereka mulai membicarakan tentang makanan.Sesungguhnya kera mampu berpikir tentang sesuatu, akan tetapi hanya untuk keluar dari situasi sulit dan menjaga diri agar tidak masuk dalam kesulitan lagi.Evolusi harus kita tinjau dari perkembangan kemampuan berpikir kera,

Kemampuan berpikir kera Hobilis adalah tentang pembagian kerja mencari makanan di hutan.Kera yang kuat mengajak teman-teman yang sama-sama kuat untuk berburu.Kera yang lemah mengajak teman-temannya untuk mencari buah, daun, jamur dan sayur di hutan.Kera yang berada di sarang adalah kera yang memang sedang tidak berminat untuk keluar ataupun kera yang sakit dan perlu dijaga oleh kera lain.Ingat, walaupun kehidupan leluhur manusia ini nampak lancar-lancar saja, tetapi mereka dihadapkan oleh masalah dasar Kehidupan, yakni persaingan.
Selain Hobilis, spesies-spesies kera lain juga hidup disana, jumlah dan ragamnya sangat banyak, evolusi dengan seleksi alam adalah kebenaran dalam hidup. Suatu persaingan memaksa spesies mengubah cara mencari makan, cara melindungi diri dan lain-lain (yang kita namakan cara hidup!).Perkembangan fisiologi mengubah cara makhluk hidup mendapatkan nutrisi, nutrisi dan bagaimana tubuh dilatih sehari-hari dapat mengubah genetika makhluk hidup.”Dari perubahan fenotipe menjadi perubahan genotipe yang diwariskan”, bukan sekedar mutasi semata tapi benar-benar perubahan umum suatu proses adaptasi yang mengubah segalanya.Persaingan membuat kompetisi dalam hutan didasarkan oleh hukum rimba, siapa yang kuat dia yang akan menang.Jika kucing menandai wilayah kekuasaan dia dengan kotoran taik ataupun kencing maka kera Hobilis lain lagi, dia berperilaku berbeda dari hewan lain, kera Hobilis menandai wilayah kekuasaan mereka dengan menggantung mayat hewan lain.

Part 8
Celaka, jamur memabukkan itu disukai oleh para Hobilis, Alpha telah merekomendasikan makanan paling radikal dalam sejarah!Jamur memabukkan itu dijadikan salah satu resep makanan dengan porsi yang sedikit sehingga tidak memabukkan,Kera Hobilis makan buah-buahan, sayur serta jamur ditambah dengan jamur memabukkan itu.Dengan jamur tersebut mereka bisa mudah tertidur karena efek halusinasinya, kera Hobilis yang awalnya mudah agresif ketika berhadapan dengan hewan lain, berubah menjadi Rasional dan berperasaan.Perubahan intelektual kera ini disebabkan oleh intensitas mimpi yang dialaminya sewaktu tidur, semakin sering kera bermimpi, maka semakin cerdas kera berkembang.Manusia modern juga sering bermimpi saat tidur, namun manusia modern tidak menganggap serius mimpi tersebut sehingga tidak mengembangkan kecerdasannya, sedangkan kera menanggapi mimpinya secara serius.
Respon kera terhadap mimpinya beraneka ragam, perbedaan ini akan mengembangkan kekhususan cara hidup mereka, lalu menciptakan peradaban berbeda-beda antara masing-masing kelompok kera yang nantinya akan hidup di tempat yang terpisah-pisah.Kera Hobilis pada awal peradaban hidup dalam kelompok besar, semua anggota kera ada dalam satu wilayah, mereka masih “takut pada kepunahan”.Kera yang paling sering berimajinasi dalam mimpinya adalah Alpha, Alpha adalah kera yang mengeluarkan “kata” pertama kali di dunia, yakni “huh”.Tidak ada yang spesial dari kehidupan kera, kecuali tentang bagaimana cara mereka “sedikit demi sedikit menemukan teknik keterampilan untuk membantu pekerjaan mencari makan”.

Related Posts

Tinggalkan Balasan