Jiah ( Oleh : Ama Raja)

Usai membersihkan beberapa tinta di meja puisi. Kata-kata bertanya kepadaku : ” Apakah kamu melihat seorang gadis menyusui padi-padi yang di lumuri hama?. ”

/1/

Luka bermula ketika Muhammad Hatta meletakkan bukti konfrensi meja bundar. Kaum tani dan nasibnya dilimpahkan tanpa kejelasan. Perampasan lahan merajalela hingga kini berujung sertifikat. Batas membatasi akhirnya cangkul sekedar cerita tua kaum komunal primitif.

Undang-undang nomor 5 tahun 1960 dicetuskan sekedar alarm penghibur borjuis besar. Akumulasi dari jutaan hektar terngiang-ngiang dalam kepala industri-industri asing. Monopoli tanah tumbuh begitu subur. Penguasanya diam tanpa kabar.

/2/
Masih ingatkah kita kejadian di Besipae?. Pemprov NTT hilang wajahnya untuk bertanya. Kemana letak hati nurani kita ketika lahan harus berlumuran air mata. Anak-anak menggendong harapannya di tengah jantung ibunya yang gersang dan kering.

Tak cukup untuk duka panjang di Besipae. Kisah kembali bermekaran tentang pembangunan Geotermal di Manggarai Barat. Doa-doa berkicauan diterpa kejamnya pengalihan isu tentang pulau kerahasiaan menuju destinasi wisata.

/3/

Hausnya pemimpin kita menelantarkan ribuan orang. Tangisan terdengar disetiap pelosok desa akibat RUU masyarakat adat tak kunjung-kunjung disahkan.

Propaganda media tak serius mengeksekusi persoalan kaum tani. Isu-isu isi sebatas berlabuh dan kembali mencari asin lautan di dekade-dekade krisis over produksi hingga finansial.

Skema imprealisme kokoh berdiri. Cabang dan rantingnya memukimi wajah investasi dan utang. Apa yang ingin kita banggakan untuk Indonesia yang dengan bangga merawat bebatuan mitos proyeksi pertumbuhan ekonomi?.

/4/

Reforma agraria tak terwujud. Sujud kita pada UU cipta kerja. Bicaralah sebelum anak cucu kita nanti makan duri.

Jiah…

Aku menemukan tintah-tintah di tanggal yang tertinggal. Upaya relokasi terdengar sesak di ujung mata gadis, Papela. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan